Senin, 03 April 2017

Aku Kuat Aku Hebat

Berhenti menapaki harapan yang pernah dibayangkan. Indah memang, Alloh Maha Menakjubkan. Meminimalkan keluhan atas segala keajaiban ini. Aku yakin Alloh memberikan ini karena keadilan. Aku yang salah mengambil posisi bahagia terlebih dahulu, setelah itu bersedih, dan (mungkin) akan bahagia kembali. Bagiku melewati ini perlu proses yang panjang. Mengikhlaskan segalanya. Tak mudah memang, tapi bisa ku lalui. Sampai sekarang pun entah sudah sebenar-benarnya ikhlas atau belum, aku juga tak tahu. Tapi setidaknya sekarang bisa lebih realistis. Hanya saja, rasa traumatis itu tak kunjung hilang. Takut ketika akan memulai, takut jika nanti harus terjatuh kembali, takut jika nanti disudahi begitu saja, takut dicaci maki, takut diabaikan, dan bla bla bla. Jika aku mampu memutar kembali waktu, mungkin yang akan ku lakukan adalah lebih baik untuk tidak mengenalnya. Memilih sendiri dan mengabaikan siapapun hingga saat terbaik itu tiba.

Penantianku tidaklah seberharga orang lain yang dapat dengan mudah melupakan masa lalunya demi masa depannya. Entah kenapa bagiku ini lama, iya, lamaaaa sekali. Butuh waktu lama bagiku menetralkan asam atau basa. Cukup bagiku yang memahami apa yang ku inginkan. Aku yakin, tak akan lama lagi. Aku akan berusaha sekuat tenaga menyembuhkan lukaku. Sendiri pun aku mampu. Tak perlu orang lain. Aku kuat. Aku hebat.

Selasa, 14 Maret 2017

Tausyiah Pagi

Siapakah pemimpinmu?
Alloh menciptakan manusia di dunia ini adalah untuk menjadi kholifah di bumi. Maka, jelas dan pasti manusia seharusnya mempunya pemimpin. Meskipun ia juga pemimpin (entah pemimpin bagi dirinya sendiri atau pemimpin bagi sebagian orang). Lalu siapakah pemimpin hidupmu? Siapakah pemimpin agamamu?
Apakah pemimpinmu adalah kepada dusun?kepala desa?camat?bupati?wali kota?gubernur?atau bahkan presiden?
Coba renungkan, selama ini yang membekalimu ilmu dunia adalah orang tua dan sekolah (pendidikan formal dan non-formal). Kemudian yang menentukan bagaimana kamu menjadi warga negara yang baik adalah dari pemerintahan dari desa sampai negara. Lalu, siapa yang memimpin agamamu ketika kamu buntu dalam beribadah? apakah kamu hanya berjalan sesuai persepsimu? ataukah kamu menentukan pemecahan masalah dengan membaca buku kemudian menganalisis sendiri bagaimana baiknya?
Agama bukan seperti itu, bukan sekedar kamu bersikap baik menurut persepsimu. Atau mungkin ada yang berfikir bahwa ketika mendengar ceramah atau himbauan kemudian dilaksanakan begitu saja?
Secara logis, manusia butuh pemimpin dalam segala hal. Yang bisa mengoreksi kesalahan dan menuntun dalam kebenaran ketika seseorang bersikap. Pun tentu itu sudah berdasarkan hukum yang benar berdasarkan kitab suci dan sunnah rosul.
Lalu, bagaimana prakteknya? Seperti halnya kita belajar di sekolah formal, apa yang kita dapat adalah ilmu yang turun-temurun didapat guru dari guru, di mana gurunya guru tersebut juga pasti mendapat ilmu dari gurunya terdahulu. Begitulah sistem perjalanan ilmu. Begitupun dengan ibadah, apa yang kita lakukan dalam ibadah adalah buah hasil kita belajar. Kita belajar tentang ilmu yang kita dapat dari ustadz atau ustadzah, di mana ustadz atau ustadzah tersebut juga mendapat ilmu dari ustadz atau ustadzahnya juga, dan seterusnya. Akan tetapi, bagaimana untuk menjaga ilmu itu agar senantiasa benar dan haqiqi sesuai syari'at? Ilmu harus dijaga kebenarannya. Cara menjaga kehaqiqiannya adalah dengan ilmu manqul. Di mana seorang guru akan memberikan ilmunya kepada muridnya, kemudian murid tersebut akan menyampaikan kepada murid lainnya, dan akan seperti itu hingga ilmu itu tidak hilang dan tetap terjaga kehaqiqiannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka disitulah peran seorang pemimpin bagi kontrol ibadah kita. Penuntun bagi berjalannya ilmu sampai ilaa yaumil qiyamah. Ilmu yang dimiliki nabi dan para shohabat nabi disampaikan secara manqul. Tanpa ditambah-tambahi bahkan dikurangi sedikitpun. Maka dari itu, tempatkan diri Anda, di manakah Anda berada. Jika sebagai ma'mum, maka siapakah imammu? yang memimpin ilmu agamamu, yang menuntun perilaku beragamamu di dunia.
Semoga apa yang saya sampaikan ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca. Syukron.

Minggu, 12 Maret 2017

Puisi Rindu

Rindu Menyanyi Bersamamu
Karya: Luk Luk Apriani

Tulisan-tulisan bersajak rindu
Memekikkan lantunan indah nan merdu
Aku tau ini bukan saat hujan
Kemarau panjang
Bertudung langit hitam

Sajakku mengharu biru
Memecah keheningan kalbu
Menyampaikan untaian syahdu

Tuhanku,
Bantulah aku
Menjawab teka-teki hidupku
Menerka setiap keheningan
Bernyanyi syair pilu pembawa haru

Aku pun tak pandai
Hanya bisa menerima ketika ada yang memberi
Pun tak mudah bagiku

Menghela sebagian nafas
Mengusap peluh
Mengeringkan hujan
Pun sering kali ku lakukan

Tak mudah memang
Bersandar pada bagian yang bukan semestinya
Terlihat samar
Entah iya atau tidak
Hanya bisa ku jawab ketika aku mulai lupa

Nada-nada sunyi berteriak
Menyanyi menemani malam
Aku rindu lagumu
Aku rindu laguku
Aku rindu lagu kita
Aku rindu kapan kita akan bernyanyi bersama.