Sedikit cerita tentang pengalaman pribadi. Tidak ada sesuatu yang tidak ada hikmahnya. Dan tidak ada hal di dunia ini yang lepas dari qodar Alloh, sekecil apapun itu. Bahkan daun yang jatuh dari pohon pun adalah karena qodar Alloh. Jangan menyesali hal buruk yang terjadi padamu, cukup nikmati, dan teliti kenapa hal tersebut bisa terjadi padamu kenapa bukan pada orang lain, dari situ kamu akan menemukan rasa ikhlas dan sadar bahwa kamu sedang diingatkan Alloh. Dan kamu akan tahu bahwa ada hikmah dibalik itu semua.
Sedikit cerita, beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 27 November 2016, saya mengalami kecelakaan terjatuh dari motor. Sepele sih, sebenere cuma ketimpa badan dan motor, tapi ternyata pergelangan tangan kiri sampai patah di salah satu tulangnya. Kronologi kejadiannya yaitu di lampu merah saat itu hujan sangat deras, jadi ketika lampu hijau mulai menyala, ada motor yang macet di sisi kanan depan saya. Ketika saya mau mulai jalan melihatnya sudah berkata dalam hati "waduh, ada motor macet". Aku tetap melajukan motorku dengan sangat pelan. Ketika hampir melewati garis marka zebra cross (tepat di samping motor yang macet) tiba-tiba ada motor dari sisi kanan menyerobot, sampai motorku menyenggol mobil yang berada di sisi kiriku, seketika saya berhenti agar tidak mengenai mobil. Pikirku, mobil tadi akan berhenti ketika tahu kendaraan kita bersrempetan. Tapi ternyata pengendara mobil semakin cepat melajukan mobilnya, seketika motorku terseret dan saya terjatuh di tengah jalan raya dengan kehiruk pikukannya disertai hujan yang begitu derasnya. Seketika badanku terasa lemas, saya sadar kalau jatuh tapi nggak kuat untuk berdiri ataupun menggerakkan badan. Dalam hatiku berkata "Ya Alloh, aku terjatuh dari motor di tengah jalan, ini gimana?". Tiba-tiba aku terasa ditarik seseorang entah siapa, kemudian diangkat ke pinggir jalan. Helmku dibuka begitu pula mantelku. Aku mulai sedikit lebih sadar ketika wajahku terkena derasnya air hujan. Kemudian seorang pria menanyaiku, "Mbak, yang terasa sakit yang mana?", "Sini mas" jawabku sambil menunjuk tangan kiri. Ketika dilihat ternyata sudah bengkak dan terasa sangat berat. Kemudian pria tadi berkata, "Ini langsung dibawa ke RS saja ya mbak, takutnya ada yang kenapa-kenapa." Seketika saya diantar ke RS dengan mengendarai motor, pria tadi di depan kemudian saya baru teman saya di belakang saya.
Sesampainya di RS, masuk UGD kemudian diperiksa oleh dokter langsung dan mendapat penanganan dengan baik. Yang ada dalam benakku kala itu, bagaimana caranya aku mengabari orang rumah kalau aku kecelakaan, aku takut menyusahkan banyak orang dan sebagainya. Tapi setelah dikabari keluarga langsung berangkat menuju RS.
Betapa bersyukurnya aku ketika itu nyawaku masih terselamatkan, tidak diterpa kendaraan dari belakang-belakangku. Dan ada orang baik yang dengan ikhlas menolongku. Alhamdulillahirobbil 'alamiin...terima kasih atas nikmat-Mu ini Yaa Robb...aku tau ini rasanya sakit, tapi aku tahu ini ujian keimanan, agar aku bermuhasabah, mencari titik-titik kesalahan yang pernah ku perbuat. Dan aku menyetujui qodarmu ini, karena aku dapat belajar dari kesalahan dan segera memperbaiki diri.
Mohon do'anya ya teman-teman semuanya, agar tanganku yang patah lekas sembuh dan pulih kembali seperti sedia kala. 😊😊😊
Sabtu, 03 Desember 2016
Sabtu, 10 September 2016
Tunangan bukan syarat sahnya menikah
Pernikahan merupakan suatu hal yang sakral. Orang berharap semoga hanya terjadi sekali dalam hidupnya. Bersama orang yang tepat sesuai dengan yang diharapkan. Menikah adalah halalnya sebuah hubungan. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu orang semakin salah mengerti.
Dalam agama, ritual pernikahan sangatlah simple, yang banyak adalah adatnya. Adat di dalam masyarakat itulah yang terkadang di salah artikan banyak orang. Adat dalam masyarakat dijadikan sebagai ukuran sah dan tidak sah. Padahal seharusnya salah. Seperti halnya sebelum menikah orang melakukan tunangan sebagai bukti mengikat kedua pengantin. Orang beranggapan setelah tunangan itu mereka bisa kemana-mana berdua, mereka mau ngapain aja boleh. Padahal salah besar, tunangan bukanlah syarat sahnya orang menikah, syarat sahnya orang menikah dalam islam adalah dengan AKAD NIKAH.
Masyarakat perlu memahami betul dalam hal ini, agar tidak salah kaprah dalam memaknai pernikahan. Dalam islam pun, tidak ada tuntunannya sebelum menikah dilaksanakan tunangan. Tunangan itu hanya gaya hidup, adat, dan bukan berdasar tuntunan dari Nabi. Jangan sampai kita terjebak dalam hal tersebut, karena bisa jadi akan menimbulkan pelanggaran had sebelum menikah.
Mari kita jaga diri kita dari fitnah, dan dari hal-hal yang dapat menimbulkan fitnah.Tujuannya adalah untuk menjaga kemurnian agama islam. Mencegah pelanggaran dan melaksanakan sesuai syari'ah. Terima kasih. 😊😊😊
Jumat, 22 April 2016
Pena yang Tak Akan Pernah Kehabisan Tinta
Ibarat menulis, pena adalah pelaku sedangkan kertas adalah medianya. Pelaku bisa bercanda, berkata yang indah, memberi koma, tanda seru, tanda tanya, bahkan tanda titik untuk mengakhiri kalimatnya.
Mungkin dunia juga demikian, sebagai lembaran kertas yang akan diisi variasi tulisan oleh pena. Jika pun ada kesalahan dalam pengisian, bisa dihapus, dicoret, atau bahkan dibuang lembarannya. Tergantung Sang Penulis.
Tidak semua yang kita harapkan muncul dengan sempurna. Penulis Maha Baik, menentukan cerita sedemikian rupa hingga membuat pena bertanya kapan berhentinya. Mencoba menebak sebisanya, menerka, memperkirakan baik dan buruknya sesuai persepsinya.
Dan saat jawaban yang sesungguhnya datang, pena tinggal melaksanakan perintah untuk menulis. Pun belum berarti ia paham apa yang ditulisnya, karena yang jelas tahu apa maksudnya hanyalah Penulis. Bertanya mungkin boleh, tapi jika tidak terjawab secara langsung pena tak boleh marah.
Bercanda pun boleh, tapi bukan berarti untuk bahan bercandaan. Selama Penulis masih mengisikan tinta pada pena, pena selalu berharap ia dapat menuliskan hal terbaik dan terindah dalam setiap lembarnya. Meski lembaran yang telah ia tulis telah banyak, ia hanya berharap akan menjadi "Pena yang tak akan pernah kehabisan tinta".
Mungkin dunia juga demikian, sebagai lembaran kertas yang akan diisi variasi tulisan oleh pena. Jika pun ada kesalahan dalam pengisian, bisa dihapus, dicoret, atau bahkan dibuang lembarannya. Tergantung Sang Penulis.
Tidak semua yang kita harapkan muncul dengan sempurna. Penulis Maha Baik, menentukan cerita sedemikian rupa hingga membuat pena bertanya kapan berhentinya. Mencoba menebak sebisanya, menerka, memperkirakan baik dan buruknya sesuai persepsinya.
Dan saat jawaban yang sesungguhnya datang, pena tinggal melaksanakan perintah untuk menulis. Pun belum berarti ia paham apa yang ditulisnya, karena yang jelas tahu apa maksudnya hanyalah Penulis. Bertanya mungkin boleh, tapi jika tidak terjawab secara langsung pena tak boleh marah.
Bercanda pun boleh, tapi bukan berarti untuk bahan bercandaan. Selama Penulis masih mengisikan tinta pada pena, pena selalu berharap ia dapat menuliskan hal terbaik dan terindah dalam setiap lembarnya. Meski lembaran yang telah ia tulis telah banyak, ia hanya berharap akan menjadi "Pena yang tak akan pernah kehabisan tinta".
Langganan:
Postingan (Atom)