Kamis, 10 Oktober 2019

Mengatasi Anak Didik Ketika Puber

Menjadi seorang guru SD tidaklah mudah, di mana harus bisa menanamkan pondasi tentang ilmu dan pendidikan karakter bagi anak. Usia anak SD adalah masa operasional konkrit, yaitu anak mulai berfikir secara logis. Menemukan fakta dari apa yang mereka lihat kemudian menalarnya dengan pola berfikir mereka. Maka dari itu, guru harus bisa menjadi contoh dan tembok sebagai pembatas perilaku negatif anak. Karena pada masa tersebut, anak masih cendereng mencoba dan melihat sesuatu yang menurut mereka belum biasa.
Di usia SD pula, anak sudah mulai puber. Di mana anak sudah merasa suka dengan teman lawan jenisnya. Di sinilah guru harus memiliki peran penting dalam mengendalikan perilaku anak. Jangan sampai anak menjadi berlebihan dan mengungkapkan rasa sukanya terhadap teman lawan jenisnya. Secara pribadi, saya berpendapat bahwa rasa suka yang dirasakan amak itu wajar, karena itu manusiawi, dan tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Akan tetapi, memang perlu diperhatikan dengan lebih. Di usia mereka yang masih dini, jangan sampai mereka berperilaku yang meniru orang dewasa, dengan berpacaran misalnya, bagi saya itu sangat tidak wajar. Lalu bagaimana cara menyikapi hal ini?
Guru adalah jembatan penghubung antara anak satu dengan anak yang lainnya. Dalam hal ini, guru dapat memposisikan diri sebagai teman bagi siswa dan juga ibu/bapak bagi siswa. Maksudnya, guru sebagai teman yaitu guru berusaha menjadi tempat curhat atau cerita anak. Dari situlah, guru dapat memberikan masukan atau saran yang positif agar anak dapat mengendalikan perasaannha tersebut. Guru sebagai orang tua bagi anak maksudnya, guru berusaha menasehati anak agar rasa suka pada temannya tersebut tidak perlu ditunjukkan secara berlebihan, karena di usia seperti kalian ini belum pantas untuk memiliki hubungan dengan teman lain jenis.
Sebagai guru SD, saya adalah orang yang paling tidak mendukung jika ada guru yang malah cenderung "macok-macokke" atau "menjodoh-jodohkan" anak meskipun niatnya hanya bercanda. Karena hal tersebut akan merusak mental anak, anak akan merasa dirinya didukung dengan rasa sukanya tersebut.
Saya bukan tipe guru yang terlalu saklek dengan ilmu atau teori. Akan tetapi, urusan moral dan perilaku anak bagi saya itu yang utama.