Rabu, 11 Maret 2015

Once open a time (1)

Kisah ini berawal dari zaman hitam putih. Di mana semua keadaan berubah, mulai dari tempat hidup, pola hidup, dan gaya hidup. Di mana aku mulai jauh dari sisi orang tua dan jauh dari teman-teman zaman putih abu-abu. Bertemu dengan orang-orang baru, dengan berbagai penampilan dan gaya hidup mereka yang beranekaragam. Aku mengamatinya satu-persatu. Ku pelajari mana yang baik, mana yang tidak baik, dan mana yang lucu.
Mereka membuatku terpukau, kadang ada beberapa cara dan gaya yang ingin aku ikuti. Tapi aku fikir-fikir lagi, untuk apa juga aku mengikuti gaya hidup mereka?aku harus menjadi diriku sendiri, menjadi pribadi yang sederhana meskipun tak jarang orang mengatakan aku in 'ndeso'. Tak apalah aku begitu, yang terpenting bagaimana aku membuat diriku belajar ilmu dan hidup untuk bekal yang akan ku jadikan sarana mengembangkan tanah kelahiranku kelak.
Dari berbagai orang yang aku lihat, aku tahu, dan aku kenal, ada satu pria yang membuatku sedikit tercengang, postur tubuh yang hampir mirip dengan orang terdahuluku itu membuatku memusatkan perhatian padanya. Aku berusaha mencari tahu siapa orang ini. Dedikit demi sedikit informasi ku dapatkan tentang orang ini. Hingga aku menemukan sebuah akun bernamakan orang itu. Aku tidak langsug mem'followup'. Tapi karena pensarannya diriku, aku mengirim pesan yang mengatakan bahwa wajahmu mengingatkanku pada mantanku. Ternyata diluar dugaanku,pesanku berbalas dan malah di'followup akunku. Agar semakin membuatnya penasaran aku membiarkannya tidak langsung ku jawab permintaan pertemanan itu. Semakin hari semakin menjadi, kami sering berbalas pesan, hingga suatu ketika ia meminta nomor hp'ku. Betapa risaunya hatiku saat itu. Senang bercampur aneh dan seakan tak percaya. Hari berganti hari semakin dekat jarak diantara kami, kontak sering terpakai, dan semakin aku mengaguminya.
Ternyata kedekatan itu menjadi boomerang bagiku, aku tak bisa membendung perasaanku untuk tidak mengaguminya. Sampai suatu ketika aku berusaha menjauhinya, mengurangi intensitas kontak dengannya. Ternyata ia yang mencariku, aku menjadi semakin berbunga-bunga. Tapi kebagiaanku itu tak bertahan lama, suatu ketika aku tahu bahwa ternyata dirinya sudah menyanding wanita. Dan aku tak pernah menyangka, sontak aku kaget dan seketika itu aku tidak ingin lagi mengharapkannya. Aku berusaha secuek mungkin tidak ingin kontak dengannya. Tapi semakin aku menjauhinya malah dia yang selalu berusaha mendekatiku. Ya aku membalasnya, tapi hanya secukupnya saja.

Tahun berganti, keadaan kami semakin jauh. Hingga pada suatu saat kami malah menjadi dekat kembali. Dan ternyata semakin menakjubkan.

Bersambung.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar