Bagaimanakah Anda memaknai sebuah "cinta"? cinta itu hanyalah insting ghaib yang mendorong kita untuk menikmatinya dengan senang, hal yang tak mudah untuk diraba dan dirasakan, tapi cukup mengena. Penderita hal ini akan merasa seperti orang yang susah dikendalikan, emosi kian naik turun tak terkontrol. Itulah yang terkadang membuat manusia bodoh dan susah mendapat jodoh, karena mereka terlalu diperbudak oleh cinta dan apabila sudah terjangkit mencapai taraf akut akan susah direhab. Jalan pemikiran orang untuk mengartikan dan memaknai sebuah cinta sangat berbeda-beda. Itulah yang membedakan manusia juga berbeda dalam melakukan tindakan dan tingkah laku terhadap orang lain.
Cinta itu terkadang membuat gila, maka dari itu cinta membutuhkan logika. Logika dalam berpikir, bertindak, dan memperlakukan. Sering kita jumpai orang yang memperlakukan cinta tidak dengan logika, jadi apapun akan mereka lakukan untuk mendapatkan cinta yang mereka inginkan.Padahal dengan cara seperti itu sebenarnya malah salah, cinta itu adalah sebuah ketulusan, bukan paksaan. Jikalau cinta itu kita raih dengan cara memaksa, maka hasilnya juga hanya akan sementara. Hal ini sering kali dilakukan oleh para remaja, di mana remaja dalam hal ini mereka sedang mencari, memilah, dan memilih calon pasangan hidupnya kelak.
Pemaknaan cinta bukan berarti mengidentifikasi pasangan untuk kita ketahui kemudian kita ubah sesuai keinginan kita. Kita tidak boleh mengubah pasangan kita untuk menjadi apa yang kita mau. Menerima apa adanya itu memang wajib, tapi bukan berarti boleh semena-mena melakukan apapun sesuai kehendak dirinya, itu namanya egois. Sebagai penengahnya harus ada rasa saling menghormati, menghargai, dan "ngerteni", itu kuncinya.
Alloh menciptakan manusia itu berpasang-pasangan agar mereka saling mengenal, jadi bagi mereka yang sedang merasakan gilanya hidup tanpa pasangan, kalian tak perlu takut, itu hanya proses, dan suatu saat pasti juga akan ada seorang pendamping untuk kalian. Putus cinta itu wajar, yang penting tetap positive thinking untuk menyikapi hidup. Sikapi dengan tenang dan penuh keyakinan, tak perlu melakukan hal yang membuat kamu menjadi anak kecil yang masih labil. Rangsang pikiranmu "kalaupun saya putus dengan dia berarti dia bukan jodohku, dia bukan yang terbaik untukku, dan aku yakin Alloh sudah menyediakan yang terbaik untukku jauh sebelum aku mengenal dia".
Perpisahan itu tak perlu disesali, yang perlu disesali adalah pertemuan, karena sesungguhnya "tidak akan terjadi perpisahan sebelum terjadi sebuah pertemuan". Jadi apapun itu, jika kalian dipisahkan tak perlu murung terlalu lama, sedih itu wajar, tapi itulah proses belajar. Dari situlah kita bisa introspeksi diri, mengetahui letak kesalahan dan kelemahan kita untuk kemudian dapat kita jadikan koreksi untuk memperbaiki diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar