Belajar
menerima setiap perkataan buruk tentang kita memang sulit, perlu keikhlasan dan
keluasan hati untuk dapat menerima kesakitan yang mau tidak mau harus kita
nikmati. Aku takut dengan tekanan batin, perkataan yang menyakitkan terkadang
lebih membuatku rapuh dan lebih memilih untuk diam. Tapi kenapa dengan
kediamanku ini sering kali malah menyakitkan hatiku. Dan inilah kediaman yang
menyakitkan, aku berusaha memendam apa yang kurasakan hanya untuk menjaga
perasaan orang agar tidak sakit hati dengan perkataanku. Tapi kenapa orang lain
yang kuharapkan bisa menjaga perkataannya untuk tidak menyakiti perasaanku
malah mereka abaikan. Inilah cobaan yang harus ku nikmati, memang perih untuk
dirasakan. Tapi apa daya, aku memang manusia lemah yang tak mampu bergulat
dengan perkataan. Aku hanyalah manusia yang tak punya hati untuk emnyakiti
orang lain karena skap dan perkataanku. Orang tuaku tak pernah mengajarkanku
untuk berbuat jahat kepada orang lain. Biarkan mereka yang kuat, melemahkan
hati mereka sendiri. Dan aku yang lemah akan berusaha menguatkan hatiku
sendiri.
Hatiku
hidup bukan untuk menerima tusukan kata” pedas dari orang luar, bahagiaku bukan
dari mereka, bahagiaku akan aku tentukan sendiri dengan caraku. Aku tak mau
karena ada orang lain yang menjadi profokator kemudian mengarahkan dan
mengajakku untuk melakukan apapun yang mereka kehendaki. Biarkan mereka menjadi
pribadi yang selalu mengajak, membujuk, dan merayu untuk selalu
bersenang-senang. Pikiran dan kelakuanku tak cukup mampu meladeni gaya hidup
mereka yang selalu mencari kesenangan duniawi. Hidup sederhana dan bersahaja
adalah sloganku. Berusaha hidup apa adanya sesuai kemampuan materi dan
pikiranku, berusaha konsisten dengan pilihanku, dan menyikapi hidup dengan
tenang dan ikhlas.
Tak ada
manusia yang mengharapkan sebuah kesakitan, termasuk aku. Sekuat dan setegar
apapun kita berusaha berbuat baik, tapi kalau orang lain saja tidak mau peduli
dengan kita ya apa daya????berusaha semampuku untuk berbuat baik ku harap itu
tidak salah, dan jika kebaikan kita disalah artikan dan hanya disakiti diakhir
cerita maka itu adalah sebuah pelajaran hidup. Bukan untuk disesali, tp untuk
dirasakan kemudian difahami untuk mencari keikhlasan diri.
Hidup
itu susah, tapi bukan berarti harus berlanjut untuk mencari kesusahan. Yang
terpenting adalah bagaimana mencari cara yang mudah untuk mencari jalan dari
yang susah. Kekesalan dan emosi manusia sering kali membuat manusia menjadi
tidak terkendali dan kurang mempunyai control diri. Dan itulah yang mampu
membedakan sisi kedewasaan seseorang. Orang yang mampu mengambil hikmah dari
kesalahan dan mampu belajar dari hiduplah orang yang dewasa. Orang yang terlalu
acuh dengan kesalahan akan masa lalulah yang membuatnya menjadi kecil dan kerdil,
kecil akan akal dan kerdil akan sikap.
Hidup
yang relative adalah hidup yang kreatif, di mana seseorang mampu menjalani
kehidupan dengan akal bukan okol, bukan pula dengan otot tapi dengan otak.
Orang yang kreatif adalah yang mampu mencari pemecahan masalah melalui cara
belajar dari dari kesalahan yang bertahap. Semua tak mudah dilakukan dan tak
sulit pula dilakukan, yang terpenting adalah kemauan dari dalam diri untuk
memperbaiki diri.
--------****--------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar