Ketika Aku, pun hanya Aku, dan cukup Aku
Aku tidak akan pernah memaksa kamu untuk mengerti kamu, aku ingin kamu mengerti atas keinginanmu sendiri, bukan karena aku yang menyuruhmu.
Aku memang lemah, aku memang mudah menyerah, tapi aku tidak pernah memintamu untuk mengasihaniku, aku ingin kamu untukku karena kamu juga ingin aku untukmu, bukan karena apapun.
Aku tak pernah tau kapan aku harus tidak mengingatmu, karena yang aku tau aku selalu mengingatmu, kapanpun dan di mana pun.
Aku tak pernah tau kapan aku harus diam ketika tidak mendengar kabarmu. Aku pun juga tak pernah tau kapan aku harus tidak menunggu ketika tidak tau keadaanmu. Aku memang memaksa, pun bukan berarti aku tidak mengerti kamu. Aku mengerti, bahkan sangat mengerti. Tapi tolong, jangan membuatku menjadi tidak mengerti ketika aku kebingungan tidak tau apa yang sedang kamu lakukan di sana. Aku ini jiwamu dan kamu jiwaku, maka pahami jiwamu untuk jiwaku.
Aku bukan pena yang tidak bisa dipakai ketika tinta sudah habis, aku juga bukan tanah yang ketika terkena air akan menjadi lembek, tapi aku ingin menjadi akar yang menguatkan dan semakin menjalar ketika pohon sudah semakin besar.
Aku tak pernah tau dengan keadaan ini, akankah terus berjalan hingga "happy ending" atau "sad ending", tapi yang aku ingin ini bukan kisah yang tak berujung. Iya, berujung bukan berakhir.
Aku bahagia menyanding ragamu, aku nyaman berada di sampingmu, aku tenang memiliki hatimu, dan aku kuat karena pelukmu yang selalu menenangkan jiwaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar