Ibarat menulis, pena adalah pelaku sedangkan kertas adalah medianya. Pelaku bisa bercanda, berkata yang indah, memberi koma, tanda seru, tanda tanya, bahkan tanda titik untuk mengakhiri kalimatnya.
Mungkin dunia juga demikian, sebagai lembaran kertas yang akan diisi variasi tulisan oleh pena. Jika pun ada kesalahan dalam pengisian, bisa dihapus, dicoret, atau bahkan dibuang lembarannya. Tergantung Sang Penulis.
Tidak semua yang kita harapkan muncul dengan sempurna. Penulis Maha Baik, menentukan cerita sedemikian rupa hingga membuat pena bertanya kapan berhentinya. Mencoba menebak sebisanya, menerka, memperkirakan baik dan buruknya sesuai persepsinya.
Dan saat jawaban yang sesungguhnya datang, pena tinggal melaksanakan perintah untuk menulis. Pun belum berarti ia paham apa yang ditulisnya, karena yang jelas tahu apa maksudnya hanyalah Penulis. Bertanya mungkin boleh, tapi jika tidak terjawab secara langsung pena tak boleh marah.
Bercanda pun boleh, tapi bukan berarti untuk bahan bercandaan. Selama Penulis masih mengisikan tinta pada pena, pena selalu berharap ia dapat menuliskan hal terbaik dan terindah dalam setiap lembarnya. Meski lembaran yang telah ia tulis telah banyak, ia hanya berharap akan menjadi "Pena yang tak akan pernah kehabisan tinta".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar